Kamis, 22 September 2011

Mengenal tentang Self Perception

Apa itu persepsi? Persepsi adalah apa yang kita pikirkan mengenai suatu hal (pandangan kita tentang sesuatu). Persepsi yang pertama adalah mengenai diri sendiri (self). Self perception itu ada 3, yatiu self concept, self awareness, dan self exteem. Self concept (konsep diri) berbicara mengenai bagaimana diri kita itu (apakah kita itu baik, pintar, cantik, dsb). Self concept ini dibangun oleh banyak hal, yaitu mulai dari apa yang orang lain pandang terhadap kita, evaluasi kita terhadap diri kita, dan perbandingan sosial yang dilakukan oleh orang lain. Yang kedua adalah Self Awareness, yaitu kesadaran kita akan diri kita (seberapa kita tahu tentang diri kita sendiri). Melalui komal yang dilakukan beberapa hari yang lalu, diajarkan tentang jendela johari.
Jendela johari adalah suatu metode bagi kita untuk mengerti siapa sebenarnya diri kita dari pandangan kita dan orang lain. Jendela johari dibagi menjadi 4 bagian. Tiap-tiap bagian menggambarkan seberapa tahukah oranglain atau diri kita sendiri mengenai diri kita. Keempat bagian itu adalah "I know, you don't know", "You know, I don't know" , "You know, I know", dan "I don't know, You don't know". Semakin kita bisa mengenal diri kita sendiri dan terbuka terhadap orang lain, maka semakin banyak 'I know, You know' dalam jendela ini, dan akan menjadi lebih baik menurut pendapat saya. Yang terakhir, kita belajar tentang self exteem. Self exteem pada dasarnya adalah pemikiran kita terhadap diri kita sendiri, bukan dari pemikiran orang lain. Orang yang memiliki self exteem yang baik akan dapat menghargai dirinya sendiri sedemikian rupa dan apa adanya dirinya. Namun sebaliknya, orang yang memiliki self exteem yang buruk tidak akan dapat menghargai dirinya, tidak pernah puas dan bersyukur terhadap dirinya. Jika kita dapat memiliki self exteem yang baik, maka kita akan dapat bersyukur terhadap keadaan kita dan menganggap diri kita ini berharga.
Melalui kelas komal yang membahas tentang self perception ini, saya belajar bahwa sebenarnya saya harus lebih menghargai diri saya sendiri, belajar lebih terbuka terhadap diri saya, dan belajar untuk membangun konsep diri yang baik untuk dipandang orang lain.

Rabu, 21 September 2011

Service Learning


Service Learning adalah suatu program/kegiatan kunjungan ke masyarakat luar (sekolah, panti asuhan, dll) yang dilakukan oleh mahasiswa dengan tujuan untuk memberikan service/pelayanan terhadap pihak masyarakat luar tersebut. Melalui service learning, kita membantu dan mengajar orang lain, tapi kita juga belajar bersama-sama. Service Learning kelompok kami melakukan kunjungan ke panti asuhan 'Lidya' di jalan Gayungsari. Panti asuhan ini terdiri dari sekitar 25 orang dengan bermacam-macam usia. Ada yang SD, SMP, SMA, ada juga yang sudah kuliah. Herannya, panti asuhan ini ternyata hanya menampung anak asuh perempuan. No boys allowed :) .Saya berharap agar bisa melakukan service learning ini dengan baik dan benar-benar progaram yang akan dibuat oleh kelompok saya berguna bagi panti asuhan yang saya kunjungi.

Belajar Mengenai Budaya

Pada kelas komal minggu berikutnya, kami belajar mengenai jenis-jenis kebudayaan yang meliputi: Power Distances, Masculine and feminine, High & Low ambiguity tolerance, High & Low context, dan Idividualist & collectivist. Kami belajar mengenai jenis-jenis budaya ini melalui sebuah drama. Nah, setiap kelompok mendapatkan satu topik untuk dijadikan tema drama yang akan dibuat, dan kelompok saya mendapatkan topik High & Low context. Awalnya saya merasa pusing dan bingung bagaimana caranya untuk mengungkapkan budaya ini melalui drama. Namun pada akhirnya, saya belajar untuk mengenal jenis budaya High & Low context ini dan melakukan latihan drama bersama kelompok saya. Drama ini benar-benar membuat saya lebih paham mengenai kebudayaan high-low context. Tapi tidak hanya budaya itu saja, saya juga jadi lebih mengerti tentang kebudayaan-kebudayaan yang lain dengan menyaksikan penampilan drama yang dilakukan oleh teman-teman kelompok yang lain. Drama-drama yang dimainkan oleh teman-teman di kelompok lain juga menghibur menurut saya. Ada yang lucu, ada yang ceritanya menarik, dll. Di sini saya jadi mengerti bahwa kebudayaan dan gaya komunikasi masing-masing orang itu berbeda-beda. Memang mungkin, pembelajaran dengan melakukan kegiatan-kegiatan seperti ini, learning by doing, akan menjadi lebih mudah mengertinya.